>

Rabu, 23 April 2014

Studi Islam 4

1. Pengertian Umum

A. Pengertian Komunikasi

Manusia sebagai makhluk yang sempurna memiliki kemampuan berkomunikasi antar mereka. Komunikasi berkaitan dengan kemampuan berfikir dan mengungkapkan fikirannya melalui media komunikasi. Sebagai makhluk social yang senantiasa saling berinterakasi, manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya.
Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare yang berarti berpartisipasi, juga berasal dari commones yang berarti sama dengan common. Secara sederhana, seseorang yang berkomunikasi mengharapkan orang lain ikut berpartisipasi atau bertindak sesuai dengan harapan, tujuan atau isi pesan yang disampaikannya.

B. Pengertian Komunikasi Islam
Ilmu komunikasi Islam yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini terutama menyangkut teori dan prinsip-prinsip komunikasi Islam, serta pendekatan Islam tentang komunikasi. Titik penting munculnya aktivisme dan pemikiran mengenai komunikasi Islam ditandai dengan terbitnya jurnal “Media, Culture and Society” pada bulan Januari 1993 di London. Ini semakin menunjukkan jati diri komunikasi Islam yang tengah mendapat perhatian dan sorotan masyarakat tidak saja di belahan negara berpenduduk Muslim tetapi juga di negara-negara Barat. Isu-isu yang dikembangkan dalam jurnal tersebut menyangkut Islam dan komunikasi yang meliputi perspektif Islam terhadap media, pemanfaatan media massa pada era pascamodern, kedudukan dan perjalanan media massa di negara Muslim serta perspektif politik terhadap Islam dan komunikasi.
Komunikasi Islam berfokus pada teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Tujuan akhirnya adalah menjadikan komunikasi Islam sebagai komunikasi alternatif, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersesuaian dengan fitrah penciptaan manusia. Kesesuaian nilai-nilai komunikasi dengan dimensi penciptaan fitrah kemanusiaan itu memberi manfaat terhadap kesejahteraan manusia sejagat. Sehingga dalam perspektif ini, komunikasi Islam merupakan proses penyampaian atau tukar menukar informasi yang menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi dalam Alquran. Komunikasi Islam dengan demikian dapat didefenisikan sebagai proses penyampaian nilai-nilai Islam dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sesuai dengan Alquran dan Hadis.

C. Pengertian Pendidikan

Menurut Ki Hhajar Dewantara, pendidikan itu di mulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah ia meninggal duni. Jadi pendidikan yang di maksud Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan seumur hidup.

D. Pengertian Pendidikan Islam

Menurut Tadjab pendidikan Islam, dapat diartikan sebagai pendidikan yang dilaksanakan dengan bersumber dan berdasar atas ajaran agama Islam.
Menurut Marimba pendidikan Islam ialah, bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran agama Islam. Kata “Islam “ dalam “pendidikan Islam” menunjukan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang bewarna Islam, pendidikan yang Islami, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam.
Proses pendidikan Islam merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan, potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual, dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana nilai- nilai Islam, yaitu nilai – nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak karimah.

2. Prinsip-pinsip dalam Islam
Ada 6 prinsip komunikasi dalam Islam, kesemuanya harus bisa kita terapkan agar komunikasi baik di dalam keluarga maupun di masyarakat, menjadi interaksi yang positif, yaitu:

1. Qaulan sadida (perkataan yang benar).
Dalam berbicara kita harus jujur, sehingga kita menjadi orang yang bisa dipercaya. Menjauhkan diri dari perkataan-perkataan bohong. Sebagaimana Firman Allah:
QS. Al-Ahzab 70: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.
QS. Annisa ayat 9: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

2. Qaulan Ma'rufa (perkataan yang baik).
Tutur kata kita yang baik kepada siapapun, baik kepada yang lebih tua maupun kepada yang muda. Baik kepada atasan maupun bawahan. Sebagaimana Firman Allah:
QS. Annisa ayat 5: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

3. Qaulan Layyinan (perkataan yang lemah lembut).
Dengan berkata lemah lembut akan membuat lawan bicara kita bersedia mendengarkan kita. Lawan bicara kita akan merasa direngkuh dan dihargai. Apa yang ingin kita sampaikan bisa lebih diterima oleh mereka. Hati kita pun bisa lebih lapang dalam menyampaikan sesuatu. Sebagaimana Firman Allah:
QS. Thaha 44: Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.

4. Qaulan maisura (perkataan yang pantas)
           
           Dalam berkomunikasi kita tidak boleh merendahkan orang lain. Terutama kepada orang yang lebih tua, sekalipun dia adalah orang yang bekerja kepada kita. Tidak tergantung pada status sosial seseorang, atau tinggi rendahnya pangkat seseorang. Sebagaimana Firman Allah:
QS. Al-Isra 28: Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.

5. Qaulan baligha (perkataan yang efektif/membekas jiwa)
            Kita berbicara tak perlu berbelit-belit. Kadang dengan begitu oarang lain malah tidak memahami yang ingin kita sampaikan. Membiasakan berkata-kata efektif akan lebih mengena pada sasaran dan membekas di hati mereka. Sebagaimana Firman Allah:
QS. An-Nisa 63: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di                                                                                                                                                                                                                                                 dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa pada jiwa seseorang. Dalam keluarga komunikasi mereka.

6. Qaulan Karima (perkataan mulia dan penuh penghormatan)
Semisal, Anak diwajibkan untuk bicara dengan mulia kepada orang tuanya, dan tentu saja orang tua harus memberi contoh kepada anakknya. Dalam berkomunikasi kita harus menghargai perasaan orang lain. Sekalipun kita sedang membicarakan sebuah kesalahan, sampaikanlah dengan pengertian.
Seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Isra 23: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

3. Tokoh-tokoh
Adapun para tokoh-tokoh pemikir pendidikan islam yaitu :
A.   Al-Ghazali
Salah atu keistimewaan Al-Ghazali adalah pembahasan  dan pemikirinnya yang sangat luas dan mendalam pada masalah pendidikan. Selain itu, Al-Ghazali mempunyai pemikiran dan pandangan luas mengenai aspek-aspek pendidikan. Pada hakikatnya usaha pendidikan di mata Al-Ghazali adalah mementingkan semua hal tentang pendidikan.  Adapun konsep pendidikan yang di kembangkan oleh Al-Ghazali (awal dari kandungan  ajaran Islam dan tradisi Islam), berprinsip pada pendidikan manusia seutuhnya.
Adapun aspek-aspek pendidikan menurut Al-Ghazali adalah :
1. Aspek pendidikan keimanan
Al-Ghazali mengatakan “iman adalah mengucapkan dengan lidah, mengakui benarnya dengan hati dan mengamalkan dengan anggota.
2. Aspek pendidikan akhlak
Suatu bidang ilmu pengetahuan yang paling banyak mendapat perhatian, pengkajian dan penenelitian oleh Al-Ghazali adalah lapangan ilmu akhlak karena berkaitan dengan prilaku manusia, sehingga hamper setiap kitab-kitabnya yang meliputi berbagai bidang selalu ada hubungannya dengan pelajaran akhlak dan pembentukan budi pekerti manusia.
3. Aspek pendidikan akliah
Akal menurut Al-Ghazali adalah “akal adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan tempat terbit dan sendi-sendinya. Ilmu pengetahuan itu berlaku dari akal, sebagaimana berlakunya buah-buahan dari pohon, sinar dari matahari dan penglihatan dari mata.”
4. Aspek  pendidikan sosial
Dalam ihya Ulumuddin juz 1, Al-Ghazali mengatakan :
“akan tetapi, manusia itu dijadikan Allah SWT, dalam bentuk yang tidak dapat hidup sendiri. Karena tidak dapat mengusahakan sendiri seluruh keperluan hidupnyabaik untuk memperoleh makanan dengan bertani, berladang, dan memperoleh roti dan nasi, memperoleh pakaian dan tempat tinggal serta menyiapkan alat-alat untuk semuanya. Dengan demikian manusia memerlukan pergaulan dan saling membantu.”
5. Aspek pendidikan jasmaniah
Menurut Al-Ghazali keutamaan-keutamaan jasmaniah terdiri dari-dari empat macam: kesehatan jasmani, kekuatan jasmani, keindahan jasmani, dan panjang umur.

B.  IBN SINA
Dalam sejarah pemikiran islam, Ibn Sina dikenal sebagai intelektual Muslim yang banyak mendapat gelar. Pemikiran Ibn Sina dalam bidang pendidikan antara lain berkenaan dengan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, guru dan pelaksanaan hukuman dalam pendidikan. Kelima aspek pendidikan yang di kemukakan sebagai berikut :
1. Tujuan Pendidikan
Menurut Ibn Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kea rah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan Fisik, intelektuaal dan budi pekerti.
2. Kurikulum
Secara sederhana istilah kurikulum digunakan untuk menunjukan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah.
3. Metode Pengajaran
Konsep metode pengajaran yang ditawarkan Ibn Sina antara lain terlihat pad setiap materi pelajaran. Dalam setiap pembahasan materi pelajaran ibn Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada anak didik.
4. Konsep Guru
Ibn Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, beragama, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main di hadapan murid.
5. Konsep Hukuman dalam pengajaran
Ibn Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan yang terpaksa hukuman dapat dilakukan dengan cara hati-hati.


C.   BURHANUDIN AZ-ZARNUJI
Konsep pendidikan yang di kemukakan Az-Zarnuji secara monumental dituangkan dalam karyanya Ta’lim al-Muta’allim Tburuq al-Ta’allum.
Dari kitap tersebut dapat di ketahui tentang konsep pendidikan islam yang di kemukakan Az-Zarnuzi. Secara umum kitab ini mencangkup tiga belas pasal yang singkat, yaitu:
1. Pengertian ilmu dan keutamaannya
2. Niat di kala belajar
3. Memilih ilmu,guru dan temanserta ketabahan dalam belajar
4. Menghormati ilmu dan ulama
5. Ketekunan, kontiunitas dan cita-cita luhur
6. Permulaan dan intentitas belajar serta tata tertipnya
7. Tawakkal kepada Allah
8. Masa belajar
9. Kasih sayang dan memberi nasihat
10 Mengambil pelajaran
11. Wara ( menjaga diri dari yang haramdan syubhat) pada masa belajar)
12. Penyebab hafal dan lupa, dan
13. Masalah rezeki dan umur
Dari ketiga belas pasal tersebut dapat di simpulkan kedalam tiga bagian besar. Sebuah analisa yang di ajukan abdul Muidh Khan dalam bukunya The Muslim Theories of Education During the middle Ages, menyimpulkan bahwa inti kitab ini mencakup tiga hal, yaitu :
1. The Division of knowledge (Pembagian Ilmu)
2. The purpose of Learning (Tujuan dan niat Belajar)
3. The method of study (Metode Pembelajaran).

E.  IBNU TAIMIYAH
Pemikiran Ibn Taimiyah dalam bidang pendidikan dapat dibagi kedalam pemikirannya dalam bidang falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum, hubungan pendidikan dengan kebudayaan.
                      Seluruh pemikirannya dalam bidang pendidikan itu ia bangun berdasarkan keterangan yang jelas sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah melalui pemahaman yang mendalam, jernih dan enerjik. Pemikirannya dalam bidang pendidikan itu merupakan respons terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat islam pada saat itu yang menuntut pemecahan yang secara strategis melalui jalur pendidikan.
Semua itu secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Falsafah Pendidikan, dasar atau asas yang digunakan sebagai acuan falsafah pendidikanoleh Ibnu taimiyah dalah ilmu yang bermanfaat sebagai asas bagi kehidupanyang cerdas dan unggul.
2. Tujuan Pendidikan, Ibnu taimiyah membagi tujuan pendidikan menjadi tiga bagian yaitu, tujuan Individual, tujuan Sosial, dan Tujuan Da’wah Islamiyah
3. Kurikulum, Ibnu taimiyah membagi kurikulum ke tiga bagian yaitu , Ilmu agama, Ilmu Aqliyah, Ilmu Askariyah,
4. Bahasa Pengantar dalam Pengajaran, Ibnu Timiyah menganjurkan untuk menggunakan bahasa Arab.

4. Pendidikan Dalam Lintasan Sejarah Islam
         Pengelolaan pendidikan dalam lintasan sejarah Islam telah dimulai oleh Rasulullah saw dan para Khulafa ar-Rasyidin. Rasulullah saw misalnya telah menjadikan mengajar baca-tulis bagi 10 orang penduduk Madinah sebagai syarat pembebasan bagi setiap tawanan perang Badar. Harta tebusan tawanan perang adalah milik Baitul Mal (kas negara). Dalam hal ini, ternyata Rasulullah saw menjadikannya sebagai 'anggaran' bagi pendidikan masyarakat.
          Hal serupa dilakukan pula pada masa Khalifah Umar ibn al-Khaththab ra. Beliau menugaskan tiga orang guru untuk mengajar penduduk kota Madinah baca-tulis, dengan gaji yang dikeluarkan dari Baitul Mal. Dan gaji yang diberikan kepada ketiga orang guru tersebut untuk setiap orangnya adalah 15 dinar setiap bulannya (1 dinar = 4,25 gram emas).                                                                  Para khalifah sepeninggal Khulafa ar-Rasyidin juga dikenal sebagai negarawan yang amat menghargai orang-orang yang berilmu. Pada masa al-Makmun (Khalifah dari Bani Abbasiyah), misalnya, berdiri lembaga ilmiah pertama di dunia yang dinamakan Darul Hikmah. Kemudian didirikan pula lembaga ilmiah yang kedua yang diberi nama dengan Lembaga Ilmiah an-Nizhamiah. Tiga abad berikutnya, di kota Baghdad didirikan pula lembaga pendidikan lain bernama al-Mustansiriyah. Lembaga ini dibangun oleh Khalifah al-Mustansir al-'Abasi pada tahun 640 H. Lembaga ini memiliki keistimewaan dengan adanya rumah sakit untuk mata kuliah kedokteran.                      Di kawasan Andalusia (daerah Spanyol), yang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam, juga banyak dibangun banyak perguruan tinggi terkenal seperti Universitas Cordoba, Sevilla, Malaga, Granada dan yang lainnya. Orang-orang Eropa yang pertama kali belajar sains dan ilmu pengetahuan banyak tertarik untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia. Sehingga, lahirlah kemudian murid-murid yang menjadi para pemikir dan filosof terkenal Eropa. Sejak itu, dimulailah zaman Renaissance-nya Eropa. Perguruan tinggi Oxford dan Cambridge di Inggris merupakan tiruan dari lembaga pendidikan di daerah Andalusia yang menggabungkan pendidikan, pusat riset, dan perpustakaan.

5. Etika yang Harus Dibangun
Manusia sebagai makhluk yang sempurna memiliki kemampuan berkomunikasi antar mereka. Komunikasi berkaitan dengan kemampuan berfikir dan mengungkapkan fikirannya melalui media komunikasi. Sebagai makhluk social yang senantiasa saling berinterakasi, manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Dengan adanya prinsip-prinsip komuniasi dalam islam seperti yang tersebut di atas diharapkan manusia dapat berkomunikasi dengan ma'ruf dan saling menjaga perasaan antar manusia.
Pada dasarnya, sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Rasulullah saw telah bersabda: "Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi).
"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan baginya untuk menuju surga." (HR. Muslim dan at-Turmudzi).
Dari hadits-hadits tersebut diharapkan para muslimin dan muslimat agar mempunyai motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah Swt sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di akhirat.

6. Kesimpulan
Berdasarkan uraian mengenai komunikasi dan pendidikan diatas dapat disimpulkan bahwa Manusia sebagai makhluk yang sempurna memiliki kemampuan berkomunikasi antar mereka. Komunikasi berkaitan dengan kemampuan berfikir dan mengungkapkan fikirannya melalui media komunikasi. Sebagai makhluk social yang senantiasa saling berinterakasi, manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. 
Ada 6 prinsip komunikasi dalam Islam, kesemuanya harus bisa kita terapkan agar komunikasi baik di dalam keluarga maupun di masyarakat, menjadi interaksi yang positif, yaitu: Qaulan sadida (perkataan yang benar), Qaulan Ma'rufa (perkataan yang baik), Qaulan Layyinan (perkataan yang lemah lembut), Qaulan baligha (perkataan yang efektif/membekas jiwa), Qaulan Karima (perkataan mulia dan penuh penghormatan).
Proses pendidikan Islam merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan, potensi hidup manusia yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual, dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana nilai- nilai Islam, yaitu nilai – nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak karimah.
Dimulai sejak pembentukan Daulah Islam di Madinah yang dibangun oleh Rasulullah saw sampai runtuhnya pada tanggal 3 Maret 1924 pada masa Khalifah Abdul Majid II di Turki, pendidikan masyarakat sangat diperhatikan sekali.

Daftar Pustaka
  1. http://caspershaft.blogspot.com/2007/02/islam-dan-pendidikan.html
  2. http://wahyonosaputro.wordpress.com/2011/08/25/sentuhan-islam-tentang-disipl    in-ilmu-            komunikasi-2/
  3. http://www.salimah.or.id/lemah-lembut-prinsip-pendidikan-anak-dalam-islam/
  4. http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2306:posisi-ilmu-dalam-pendidikan-islam&catid=35:artikel&Itemid=210



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar Disini :