1. Pengertian Umum
A. Pengertian Komunikasi
Manusia sebagai makhluk yang sempurna memiliki kemampuan
berkomunikasi antar mereka. Komunikasi berkaitan dengan kemampuan berfikir dan
mengungkapkan fikirannya melalui media komunikasi. Sebagai makhluk social yang senantiasa
saling berinterakasi, manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi satu dengan
yang lainnya.
Istilah
komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare yang berarti berpartisipasi,
juga berasal dari commones yang berarti sama dengan common. Secara sederhana,
seseorang yang berkomunikasi mengharapkan orang lain ikut berpartisipasi atau
bertindak sesuai dengan harapan, tujuan atau isi pesan yang disampaikannya.
B. Pengertian Komunikasi
Islam
Ilmu
komunikasi Islam yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini terutama
menyangkut teori dan prinsip-prinsip komunikasi Islam, serta pendekatan Islam
tentang komunikasi. Titik penting munculnya aktivisme dan pemikiran mengenai
komunikasi Islam ditandai dengan terbitnya jurnal “Media, Culture and Society”
pada bulan Januari 1993 di London. Ini semakin menunjukkan jati diri komunikasi
Islam yang tengah mendapat perhatian dan sorotan masyarakat tidak saja di
belahan negara berpenduduk Muslim tetapi juga di negara-negara Barat. Isu-isu
yang dikembangkan dalam jurnal tersebut menyangkut Islam dan komunikasi yang
meliputi perspektif Islam terhadap media, pemanfaatan media massa pada era
pascamodern, kedudukan dan perjalanan media massa di negara Muslim serta
perspektif politik terhadap Islam dan komunikasi.
Komunikasi
Islam berfokus pada teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh para pemikir
Muslim. Tujuan akhirnya adalah menjadikan komunikasi Islam sebagai komunikasi
alternatif, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang
bersesuaian dengan fitrah penciptaan manusia. Kesesuaian nilai-nilai komunikasi
dengan dimensi penciptaan fitrah kemanusiaan itu memberi manfaat terhadap
kesejahteraan manusia sejagat. Sehingga dalam perspektif ini, komunikasi Islam
merupakan proses penyampaian atau tukar menukar informasi yang menggunakan
prinsip dan kaedah komunikasi dalam Alquran. Komunikasi Islam dengan demikian
dapat didefenisikan sebagai proses penyampaian nilai-nilai Islam dari
komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang
sesuai dengan Alquran dan Hadis.
C. Pengertian
Pendidikan
Menurut Ki Hhajar
Dewantara, pendidikan itu di mulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah
ia meninggal duni. Jadi pendidikan yang di maksud Ki Hajar Dewantara adalah
pendidikan seumur hidup.
D. Pengertian Pendidikan
Islam
Menurut Tadjab
pendidikan Islam, dapat diartikan sebagai pendidikan yang dilaksanakan dengan
bersumber dan berdasar atas ajaran agama Islam.
Menurut Marimba
pendidikan Islam ialah, bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada
seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran agama Islam.
Kata “Islam “ dalam “pendidikan Islam” menunjukan warna pendidikan tertentu,
yaitu pendidikan yang bewarna Islam, pendidikan yang Islami, yaitu pendidikan
yang berdasarkan Islam.
Proses pendidikan
Islam merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan, potensi hidup manusia
yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga
terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual, dan
sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana nilai- nilai Islam,
yaitu nilai – nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak karimah.
2. Prinsip-pinsip dalam Islam
Ada 6 prinsip komunikasi dalam Islam, kesemuanya harus
bisa kita terapkan agar komunikasi baik di dalam keluarga maupun di masyarakat,
menjadi interaksi yang positif, yaitu:
1. Qaulan sadida (perkataan yang benar).
Dalam berbicara
kita harus jujur, sehingga kita menjadi orang yang bisa dipercaya. Menjauhkan
diri dari perkataan-perkataan bohong. Sebagaimana Firman Allah:
QS.
Al-Ahzab 70: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar.
QS.
Annisa ayat 9: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
2. Qaulan Ma'rufa (perkataan yang baik).
Tutur kata kita yang
baik kepada siapapun, baik kepada yang lebih tua maupun kepada yang muda. Baik
kepada atasan maupun bawahan. Sebagaimana Firman Allah:
QS.
Annisa ayat 5: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum
sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan
Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil
harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.
3.
Qaulan Layyinan (perkataan
yang lemah lembut).
Dengan berkata
lemah lembut akan membuat lawan bicara kita bersedia mendengarkan kita. Lawan
bicara kita akan merasa direngkuh dan dihargai. Apa yang ingin kita sampaikan
bisa lebih diterima oleh mereka. Hati kita pun bisa lebih lapang dalam
menyampaikan sesuatu. Sebagaimana Firman Allah:
QS.
Thaha 44: Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut.
4. Qaulan maisura
(perkataan yang pantas)
Dalam berkomunikasi kita tidak boleh merendahkan orang lain. Terutama kepada orang yang lebih tua, sekalipun dia adalah orang yang bekerja kepada kita. Tidak tergantung pada status sosial seseorang, atau tinggi rendahnya pangkat seseorang. Sebagaimana Firman Allah:
Dalam berkomunikasi kita tidak boleh merendahkan orang lain. Terutama kepada orang yang lebih tua, sekalipun dia adalah orang yang bekerja kepada kita. Tidak tergantung pada status sosial seseorang, atau tinggi rendahnya pangkat seseorang. Sebagaimana Firman Allah:
QS.
Al-Isra 28: Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari
Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.
5. Qaulan baligha
(perkataan yang efektif/membekas jiwa)
Kita berbicara tak perlu berbelit-belit. Kadang dengan begitu oarang lain malah tidak memahami yang ingin kita sampaikan. Membiasakan berkata-kata efektif akan lebih mengena pada sasaran dan membekas di hati mereka. Sebagaimana Firman Allah:
Kita berbicara tak perlu berbelit-belit. Kadang dengan begitu oarang lain malah tidak memahami yang ingin kita sampaikan. Membiasakan berkata-kata efektif akan lebih mengena pada sasaran dan membekas di hati mereka. Sebagaimana Firman Allah:
QS.
An-Nisa 63: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang
di
dalam
hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka
pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa pada
jiwa seseorang. Dalam keluarga komunikasi mereka.
6.
Qaulan Karima (perkataan
mulia dan penuh penghormatan)
Semisal, Anak diwajibkan untuk bicara dengan mulia kepada orang tuanya,
dan tentu saja orang tua harus memberi contoh kepada anakknya. Dalam
berkomunikasi kita harus menghargai perasaan orang lain. Sekalipun kita sedang
membicarakan sebuah kesalahan, sampaikanlah dengan pengertian.
Seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Isra 23: Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan
"ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia.
3. Tokoh-tokoh
Adapun para
tokoh-tokoh pemikir pendidikan islam yaitu :
A. Al-Ghazali
Salah atu keistimewaan Al-Ghazali adalah
pembahasan dan pemikirinnya yang sangat
luas dan mendalam pada masalah pendidikan. Selain itu, Al-Ghazali mempunyai
pemikiran dan pandangan luas mengenai aspek-aspek pendidikan. Pada hakikatnya
usaha pendidikan di mata Al-Ghazali adalah mementingkan semua hal tentang
pendidikan. Adapun konsep pendidikan
yang di kembangkan oleh Al-Ghazali (awal dari kandungan ajaran Islam dan tradisi Islam), berprinsip
pada pendidikan manusia seutuhnya.
Adapun aspek-aspek
pendidikan menurut Al-Ghazali adalah :
1. Aspek pendidikan keimanan
Al-Ghazali mengatakan “iman adalah mengucapkan dengan
lidah, mengakui benarnya dengan hati dan mengamalkan dengan anggota.
2. Aspek pendidikan akhlak
Suatu bidang ilmu pengetahuan yang paling banyak
mendapat perhatian, pengkajian dan penenelitian oleh Al-Ghazali adalah lapangan
ilmu akhlak karena berkaitan dengan prilaku manusia, sehingga hamper setiap
kitab-kitabnya yang meliputi berbagai bidang selalu ada hubungannya dengan
pelajaran akhlak dan pembentukan budi pekerti manusia.
3. Aspek pendidikan akliah
Akal menurut Al-Ghazali adalah “akal adalah sebagai
sumber ilmu pengetahuan tempat terbit dan sendi-sendinya. Ilmu pengetahuan itu
berlaku dari akal, sebagaimana berlakunya buah-buahan dari pohon, sinar dari
matahari dan penglihatan dari mata.”
4. Aspek pendidikan sosial
Dalam ihya
Ulumuddin juz 1, Al-Ghazali mengatakan :
“akan tetapi, manusia itu dijadikan Allah SWT, dalam bentuk yang tidak
dapat hidup sendiri. Karena tidak dapat mengusahakan sendiri seluruh keperluan
hidupnyabaik untuk memperoleh makanan dengan bertani, berladang, dan memperoleh
roti dan nasi, memperoleh pakaian dan tempat tinggal serta menyiapkan alat-alat
untuk semuanya. Dengan demikian manusia memerlukan pergaulan dan saling
membantu.”
5. Aspek pendidikan
jasmaniah
Menurut Al-Ghazali keutamaan-keutamaan jasmaniah
terdiri dari-dari empat macam: kesehatan jasmani, kekuatan jasmani, keindahan
jasmani, dan panjang umur.
B. IBN SINA
Dalam sejarah pemikiran islam, Ibn Sina dikenal
sebagai intelektual Muslim yang banyak mendapat gelar. Pemikiran Ibn Sina dalam
bidang pendidikan antara lain berkenaan dengan tujuan pendidikan, kurikulum,
metode pengajaran, guru dan pelaksanaan hukuman dalam pendidikan. Kelima aspek
pendidikan yang di kemukakan sebagai berikut :
1. Tujuan Pendidikan
Menurut Ibn Sina, bahwa tujuan pendidikan harus
diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kea rah
perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan Fisik, intelektuaal dan budi
pekerti.
2. Kurikulum
Secara sederhana istilah kurikulum digunakan untuk
menunjukan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu
gelar atau ijazah.
3. Metode Pengajaran
Konsep metode pengajaran yang ditawarkan Ibn Sina
antara lain terlihat pad setiap materi pelajaran. Dalam setiap pembahasan
materi pelajaran ibn Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada
anak didik.
4. Konsep Guru
Ibn Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru
yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam
mendidik anak, beragama, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan
main-main di hadapan murid.
5. Konsep Hukuman dalam
pengajaran
Ibn Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan
hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat
menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan yang terpaksa hukuman dapat
dilakukan dengan cara hati-hati.
C. BURHANUDIN AZ-ZARNUJI
Konsep pendidikan yang di kemukakan Az-Zarnuji secara
monumental dituangkan dalam karyanya Ta’lim al-Muta’allim Tburuq al-Ta’allum.
Dari kitap tersebut dapat di ketahui tentang konsep
pendidikan islam yang di kemukakan Az-Zarnuzi. Secara umum kitab ini mencangkup
tiga belas pasal yang singkat, yaitu:
1. Pengertian ilmu dan
keutamaannya
2. Niat di kala belajar
3. Memilih ilmu,guru dan
temanserta ketabahan dalam belajar
4. Menghormati ilmu dan
ulama
5. Ketekunan, kontiunitas
dan cita-cita luhur
6. Permulaan dan intentitas
belajar serta tata tertipnya
7. Tawakkal kepada Allah
8. Masa belajar
9. Kasih sayang dan memberi
nasihat
10 Mengambil pelajaran
11. Wara ( menjaga diri dari
yang haramdan syubhat) pada masa belajar)
12. Penyebab hafal dan lupa,
dan
13. Masalah rezeki dan umur
Dari ketiga belas pasal tersebut dapat di simpulkan
kedalam tiga bagian besar. Sebuah analisa yang di ajukan abdul Muidh Khan dalam
bukunya The Muslim Theories of Education During the middle Ages, menyimpulkan
bahwa inti kitab ini mencakup tiga hal, yaitu :
1. The Division of knowledge (Pembagian Ilmu)
2. The purpose of Learning (Tujuan dan niat Belajar)
3. The method of study (Metode Pembelajaran).
E. IBNU TAIMIYAH
Pemikiran Ibn Taimiyah dalam bidang pendidikan dapat
dibagi kedalam pemikirannya dalam bidang falsafah pendidikan, tujuan
pendidikan, kurikulum, hubungan pendidikan dengan kebudayaan.
Seluruh
pemikirannya dalam bidang pendidikan itu ia bangun berdasarkan keterangan yang
jelas sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah melalui pemahaman yang
mendalam, jernih dan enerjik. Pemikirannya dalam bidang pendidikan itu
merupakan respons terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat islam pada
saat itu yang menuntut pemecahan yang secara strategis melalui jalur
pendidikan.
Semua itu secara singkat
dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.
Falsafah Pendidikan, dasar atau asas yang digunakan sebagai acuan falsafah
pendidikanoleh Ibnu taimiyah dalah ilmu yang bermanfaat sebagai asas bagi
kehidupanyang cerdas dan unggul.
2.
Tujuan Pendidikan, Ibnu taimiyah membagi tujuan pendidikan menjadi tiga bagian
yaitu, tujuan Individual, tujuan Sosial, dan Tujuan Da’wah Islamiyah
3.
Kurikulum, Ibnu taimiyah membagi kurikulum ke tiga bagian yaitu , Ilmu agama, Ilmu Aqliyah, Ilmu Askariyah,
4. Bahasa Pengantar dalam Pengajaran, Ibnu Timiyah menganjurkan untuk
menggunakan bahasa Arab.
4. Pendidikan Dalam Lintasan Sejarah Islam
Pengelolaan pendidikan dalam lintasan sejarah Islam telah dimulai oleh Rasulullah saw dan para Khulafa ar-Rasyidin. Rasulullah saw misalnya telah menjadikan mengajar baca-tulis bagi 10 orang penduduk Madinah sebagai syarat pembebasan bagi setiap tawanan perang Badar. Harta tebusan tawanan perang adalah milik Baitul Mal (kas negara). Dalam hal ini, ternyata Rasulullah saw menjadikannya sebagai 'anggaran' bagi pendidikan masyarakat.
Hal serupa dilakukan pula pada masa Khalifah Umar ibn al-Khaththab ra. Beliau menugaskan tiga orang guru untuk mengajar penduduk kota Madinah baca-tulis, dengan gaji yang dikeluarkan dari Baitul Mal. Dan gaji yang diberikan kepada ketiga orang guru tersebut untuk setiap orangnya adalah 15 dinar setiap bulannya (1 dinar = 4,25 gram emas). Para khalifah sepeninggal Khulafa ar-Rasyidin juga dikenal sebagai negarawan yang amat menghargai orang-orang yang berilmu. Pada masa al-Makmun (Khalifah dari Bani Abbasiyah), misalnya, berdiri lembaga ilmiah pertama di dunia yang dinamakan Darul Hikmah. Kemudian didirikan pula lembaga ilmiah yang kedua yang diberi nama dengan Lembaga Ilmiah an-Nizhamiah. Tiga abad berikutnya, di kota Baghdad didirikan pula lembaga pendidikan lain bernama al-Mustansiriyah. Lembaga ini dibangun oleh Khalifah al-Mustansir al-'Abasi pada tahun 640 H. Lembaga ini memiliki keistimewaan dengan adanya rumah sakit untuk mata kuliah kedokteran. Di kawasan Andalusia (daerah Spanyol), yang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam, juga banyak dibangun banyak perguruan tinggi terkenal seperti Universitas Cordoba, Sevilla, Malaga, Granada dan yang lainnya. Orang-orang Eropa yang pertama kali belajar sains dan ilmu pengetahuan banyak tertarik untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia. Sehingga, lahirlah kemudian murid-murid yang menjadi para pemikir dan filosof terkenal Eropa. Sejak itu, dimulailah zaman Renaissance-nya Eropa. Perguruan tinggi Oxford dan Cambridge di Inggris merupakan tiruan dari lembaga pendidikan di daerah Andalusia yang menggabungkan pendidikan, pusat riset, dan perpustakaan.
Pengelolaan pendidikan dalam lintasan sejarah Islam telah dimulai oleh Rasulullah saw dan para Khulafa ar-Rasyidin. Rasulullah saw misalnya telah menjadikan mengajar baca-tulis bagi 10 orang penduduk Madinah sebagai syarat pembebasan bagi setiap tawanan perang Badar. Harta tebusan tawanan perang adalah milik Baitul Mal (kas negara). Dalam hal ini, ternyata Rasulullah saw menjadikannya sebagai 'anggaran' bagi pendidikan masyarakat.
Hal serupa dilakukan pula pada masa Khalifah Umar ibn al-Khaththab ra. Beliau menugaskan tiga orang guru untuk mengajar penduduk kota Madinah baca-tulis, dengan gaji yang dikeluarkan dari Baitul Mal. Dan gaji yang diberikan kepada ketiga orang guru tersebut untuk setiap orangnya adalah 15 dinar setiap bulannya (1 dinar = 4,25 gram emas). Para khalifah sepeninggal Khulafa ar-Rasyidin juga dikenal sebagai negarawan yang amat menghargai orang-orang yang berilmu. Pada masa al-Makmun (Khalifah dari Bani Abbasiyah), misalnya, berdiri lembaga ilmiah pertama di dunia yang dinamakan Darul Hikmah. Kemudian didirikan pula lembaga ilmiah yang kedua yang diberi nama dengan Lembaga Ilmiah an-Nizhamiah. Tiga abad berikutnya, di kota Baghdad didirikan pula lembaga pendidikan lain bernama al-Mustansiriyah. Lembaga ini dibangun oleh Khalifah al-Mustansir al-'Abasi pada tahun 640 H. Lembaga ini memiliki keistimewaan dengan adanya rumah sakit untuk mata kuliah kedokteran. Di kawasan Andalusia (daerah Spanyol), yang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam, juga banyak dibangun banyak perguruan tinggi terkenal seperti Universitas Cordoba, Sevilla, Malaga, Granada dan yang lainnya. Orang-orang Eropa yang pertama kali belajar sains dan ilmu pengetahuan banyak tertarik untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia. Sehingga, lahirlah kemudian murid-murid yang menjadi para pemikir dan filosof terkenal Eropa. Sejak itu, dimulailah zaman Renaissance-nya Eropa. Perguruan tinggi Oxford dan Cambridge di Inggris merupakan tiruan dari lembaga pendidikan di daerah Andalusia yang menggabungkan pendidikan, pusat riset, dan perpustakaan.
5. Etika yang Harus Dibangun
Manusia sebagai
makhluk yang sempurna memiliki kemampuan berkomunikasi antar mereka. Komunikasi
berkaitan dengan kemampuan berfikir dan mengungkapkan fikirannya melalui media
komunikasi. Sebagai makhluk social yang senantiasa saling berinterakasi,
manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Dengan
adanya prinsip-prinsip komuniasi dalam islam seperti yang tersebut di atas
diharapkan manusia dapat berkomunikasi dengan ma'ruf dan saling menjaga
perasaan antar manusia.
Pada dasarnya,
sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim
wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Rasulullah saw telah
bersabda: "Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim."
(HR. Ibnu Adi dan Baihaqi).
"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan baginya untuk menuju surga." (HR. Muslim dan at-Turmudzi).
"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan baginya untuk menuju surga." (HR. Muslim dan at-Turmudzi).
Dari
hadits-hadits tersebut diharapkan para muslimin dan muslimat agar mempunyai
motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk
mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim yang giat belajar karena
terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah Swt sangat cinta dan memuliakan
orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di akhirat.
6. Kesimpulan
Berdasarkan
uraian mengenai komunikasi dan pendidikan diatas dapat disimpulkan bahwa Manusia
sebagai makhluk yang sempurna memiliki kemampuan berkomunikasi antar mereka.
Komunikasi berkaitan dengan kemampuan berfikir dan mengungkapkan fikirannya
melalui media komunikasi. Sebagai makhluk social yang senantiasa saling
berinterakasi, manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang
lainnya.
Ada 6 prinsip
komunikasi dalam Islam, kesemuanya harus bisa kita terapkan agar komunikasi
baik di dalam keluarga maupun di masyarakat, menjadi interaksi yang positif,
yaitu: Qaulan sadida (perkataan yang
benar), Qaulan Ma'rufa (perkataan yang baik), Qaulan Layyinan (perkataan yang
lemah lembut), Qaulan baligha (perkataan yang efektif/membekas jiwa), Qaulan
Karima (perkataan mulia dan penuh penghormatan).
Proses pendidikan
Islam merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan, potensi hidup manusia
yang berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga
terjadilah perubahan dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual, dan
sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana nilai- nilai Islam,
yaitu nilai – nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlak karimah.
Dimulai sejak
pembentukan Daulah Islam di Madinah yang dibangun oleh Rasulullah saw sampai
runtuhnya pada tanggal 3 Maret 1924 pada masa Khalifah Abdul Majid II di Turki,
pendidikan masyarakat sangat diperhatikan sekali.
Daftar Pustaka
- http://caspershaft.blogspot.com/2007/02/islam-dan-pendidikan.html
- http://wahyonosaputro.wordpress.com/2011/08/25/sentuhan-islam-tentang-disipl in-ilmu- komunikasi-2/
- http://www.salimah.or.id/lemah-lembut-prinsip-pendidikan-anak-dalam-islam/
- http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2306:posisi-ilmu-dalam-pendidikan-islam&catid=35:artikel&Itemid=210
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tulis Komentar Disini :